50 Madrasah Jadi Pilot KBC di Lombok Timur, Pendidikan Tak Cukup Hanya Mencetak Anak Pintar

LOMBOK TIMUR — Penasilet.com-  Pendidikan tidak cukup hanya melahirkan peserta didik yang pintar secara akademik. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, madrasah dituntut mampu mencetak generasi yang tidak hanya kuat dalam sains, tetapi juga memiliki karakter, adab, empati dan kepedulian terhadap sesama.

Semangat itulah yang menjadi salah satu pesan penting dalam pembinaan 50 madrasah piloting Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digelar Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lombok Timur, Selasa, 15 September 2026.

Sebanyak 50 madrasah dari jenjang MI, MTs hingga MA, baik negeri maupun swasta, yang telah ditunjuk sebagai madrasah piloting mengikuti pembinaan tersebut. Mereka diproyeksikan menjadi garda terdepan sekaligus contoh dalam penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di lingkungan madrasah.

Kegiatan dihadiri Kepala Kemenag Lombok Timur, Kasi Penmad, Ketua Pokjawas, pengawas pembina masing-masing wilayah, serta para kepala madrasah peserta piloting KBC.

Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala Kemenag Lombok Timur, H. Sulhi, S.Pd., M.Pd.

Dalam sambutannya, H. Sulhi menegaskan bahwa kebijakan pemerintah saat ini memberikan pelayanan dan kesempatan yang sama bagi madrasah negeri maupun swasta. Karena itu, madrasah harus mampu menjawab kepercayaan masyarakat melalui peningkatan mutu pengelolaan lembaga dan kualitas pembelajaran.

Menurutnya, pembinaan KBC bukan sekadar kegiatan administratif atau pergantian istilah dalam kurikulum. Lebih jauh, program tersebut menyentuh cara madrasah memperlakukan peserta didik dan bagaimana guru menghadirkan nilai kemanusiaan dalam proses pendidikan.

“Bagaimana kita meningkatkan kompetensi kepala madrasah dalam mengelola lembaga dan meningkatkan kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran terhadap peserta didik,” menjadi salah satu penekanan dalam kegiatan tersebut.

Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan berbasis cinta tidak boleh berhenti pada teori dan ceramah di ruang kelas. Nilai cinta, kasih sayang, empati dan kepedulian sosial harus terlihat dalam perilaku guru, budaya madrasah dan proses pembelajaran sehari-hari.

Dengan demikian, guru bukan hanya hadir sebagai penyampai materi, tetapi juga menjadi teladan yang mampu menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman dan manusiawi bagi peserta didik.

50 Madrasah Bukan Sekadar Peserta, Tapi Percontohan

Sementara itu, Kasi Penmad Kemenag Lombok Timur, Suhardi, SH., S.Pd.I., M.Pd.I., menegaskan bahwa 50 madrasah yang mengikuti pembinaan tersebut memiliki posisi strategis.

Mereka bukan sekadar peserta kegiatan, tetapi merupakan pilot atau sampel yang diharapkan menjadi rujukan bagi madrasah lainnya.

“Kepala madrasah yang hadir hari ini adalah pilot, sampel untuk madrasah yang lain. Nantinya akan mengimbaskan kepada madrasah yang lain,” tegasnya.

Pesan tersebut menempatkan madrasah piloting sebagai ujung tombak dalam memastikan KBC tidak berhenti sebagai sebuah konsep, tetapi benar-benar hidup dalam budaya pendidikan.

Suhardi menegaskan, tantangan pendidikan hari ini adalah bagaimana mempersiapkan peserta didik yang handal dalam sains sekaligus memiliki karakter dan adab yang baik.

Sebab, kecerdasan tanpa karakter dapat kehilangan arah. Begitu pula kemampuan akademik tanpa empati berpotensi melahirkan generasi yang unggul secara intelektual, tetapi lemah secara sosial.

KBC Harus Terasa, Bukan Sekadar Tertulis

Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta pada akhirnya akan diuji bukan melalui dokumen yang tersusun rapi, melainkan melalui perubahan nyata di madrasah.

Apakah guru semakin dekat dengan peserta didik? Apakah lingkungan madrasah semakin ramah? Apakah anak-anak belajar menghargai, peduli dan membantu sesama? Dan apakah pembelajaran mampu membentuk manusia yang berilmu sekaligus berakhlak?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi tantangan bagi 50 madrasah piloting KBC di Lombok Timur.

Jika berhasil, 50 madrasah tersebut bukan hanya menjadi pelaksana program, tetapi dapat menjadi pemantik perubahan budaya pendidikan madrasah di Lombok Timur.

Sebab, pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang masuk ke kepala anak, tetapi juga tentang seberapa besar nilai kebaikan tumbuh di dalam hatinya.

”Redaksi ” [ ZQ/PS]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!