Foto: Ilustrasi
JAKARTA,Penasilet.com – Di saat warga Pati sibuk mengangkat perabotan dari genangan banjir, Bupati Sudewo justru “mengangkat” urusan lain, yang rupanya lebih basah oleh aroma amplop ketimbang air hujan. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun turun tangan, bukan membawa perahu karet, melainkan borgol. Lengkaplah sudah: satu daerah kebanjiran, satu kepala daerah ketahuan “berenang” di arus yang salah.
Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) mengaku sedih, tapi juga lega. Sedih karena rakyat sedang berjibaku melawan banjir, sementara pemimpinnya justru tenggelam dalam praktik korupsi. Lega karena upaya memakzulkan Sudewo yang kandas di DPRD akhirnya “berhasil” lewat jalur yang lebih klasik, OTT.
“Sangat bersedih, warga sedang banjir, tapi praktik korupsi malah terjadi,” kata Koordinator AMPB, Suharno kepada media.
Ya, banjir air dan banjir masalah ternyata bisa datang bersamaan. Bedanya, yang satu akibat hujan, yang satu akibat kebiasaan.
AMPB menilai OTT ini sebagai penghiburan pahit, semacam obat pahit bagi penyakit kronis bernama KKN. Setelah sebelumnya kebijakan Sudewo, termasuk rencana menaikkan PBB hingga 250 persen, menuai gelombang protes, kini publik kembali disuguhi “kebijakan” lain, kebijakan menambah daftar kepala daerah yang masuk katalog OTT.
Padahal, belum lama ini DPRD Pati meminta Sudewo melakukan “perbaikan kinerja.” Rupanya, perbaikan yang dilakukan bukan pada tata kelola pemerintahan, melainkan pada teknik menghindari jeratan hukum, yang ternyata gagal total.
Ironinya, dua pentolan AMPB, Teguh Istiyanto dan Supriyono alias Botok, justru harus berurusan dengan hukum karena memblokir jalan saat aksi demo.
Sementara sang bupati, yang kebijakannya dianggap menyusahkan rakyat, justru baru “diblokir” setelah KPK turun tangan. Seolah-olah di Pati, menutup jalan lebih berbahaya daripada membuka peluang korupsi.
KPK melalui Juru Bicara Budi Prasetyo membenarkan bahwa Sudewo terjaring OTT. Meski belum dijelaskan perkara apa yang menjeratnya, publik tampaknya sudah terlalu sering menyaksikan episode serupa, sehingga detail perkara hanyalah formalitas belaka, semacam spoiler dari film yang ending-nya sudah bisa ditebak.
“Benar, salah satu pihak yang diamankan dalam peristiwa tertangkap tangkap di Pati adalah saudara SDW (Sudewo), dan saat ini, yang bersangkutan sedang dilakukan pemeriksaan secara intensif oleh tim di Polres Kudus,” kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo kepada wartawan di gedung Merah Putih, Jakarta Selatan, Senin (19/1/2026).
Kini, warga Pati berharap bukan hanya air banjir yang surut, tetapi juga budaya korupsi yang selama ini menggenangi pemerintahan. Karena kalau banjir saja bisa ditanggulangi dengan pompa, seharusnya korupsi pun bisa, asal pompa moral para pejabat tidak bocor.
Dan seperti kata AMPB, semoga ini menjadi pelajaran. Meski di negeri ini, pelajaran sering kali diulang, bukan karena belum dipahami, tapi karena terlalu sering diabaikan.'(Red)”
Editor: Tamrin












