Foto: Ilustrasi
Oleh: Tim Redaksi
JAKARTA,Penasilet.com – Dalam masyarakat demokratis, generasi muda seharusnya menjadi tulang punggung perubahan, bukan alat penguat status quo yang korup dan stagnan. Sayangnya, kini tak sedikit anak muda yang justru lebih sibuk melatih diri menjadi penjilat kekuasaan daripada mengasah daya kritisnya. Mereka mencari kedekatan, bukan kebenaran. Mereka memburu akses, bukan integritas.
Orang-orang muda yang merdeka tak pernah silau pada kekuasaan. Mereka berpihak pada nilai, bukan pada posisi. Mereka mengasah logika dan nurani, bukan melumpuhkan akal demi kepentingan pribadi. Pemuda yang berpikir kritis akan mempertanyakan, menggugat, dan menyuarakan yang benar meski tak populer. Ia tak takut melawan arus jika arus itu membawa kehancuran.
Namun hari ini, kita menyaksikan fenomena mengkhawatirkan: pemuda lebih sibuk tampil loyal pada elite, aktif memproduksi pujian palsu, diam terhadap ketidakadilan, dan mengutuk suara berbeda. Mereka melabeli kritik sebagai pembangkangan, menganggap diam sebagai cerdas, dan membungkam suara nurani atas nama ‘kesetiaan’.
Mental seperti ini bukanlah cermin kemerdekaan, melainkan bentuk baru dari perbudakan intelektual. Ini berbahaya. Sebab, saat pemuda kehilangan daya kritisnya, negara kehilangan harapan masa depannya.
“Pemuda sejati adalah mereka yang bersuara jernih dalam kebisingan kepalsuan, yang berdiri tegak di antara runtuhan nilai, dan yang memilih jalan terjal kejujuran dibanding jalan instan kepentingan”.
Merdekakan dirimu. Berpikirlah kritis. Karena masa depan bangsa bukan ditentukan oleh seberapa banyak yang menjilat, tapi oleh seberapa banyak yang berani berdiri tegak mengatakan: ini salah, ini benar.
Penulis: Tim Redaksi
Editor. : Tamrin
#Editorial
#Opini
#Bonus
#Demografi














