Foto: Ilustrasi
JAKARTA,Penasilet.com – Selasa, (2/9/2025) – Pernyataan “Sungguh mengerikan era di mana orang-orang bodoh memerintah orang-orang buta” bukan sekadar kutipan sarkastik, ia adalah refleksi pahit atas realitas sosial dan politik yang kini kita hadapi. Ungkapan ini menggambarkan kondisi ketika kepemimpinan diisi oleh individu yang tidak memiliki kapasitas, integritas, atau visi, sementara masyarakat yang dipimpin pun tidak memiliki kesadaran kritis untuk menilai dan menolak kebodohan tersebut.
1. Kepemimpinan Tanpa Kompetensi
Hari ini, jabatan publik sering kali diisi bukan karena kualitas, tetapi karena loyalitas, koneksi, atau kepentingan politik. Pemimpin yang tak paham kebijakan, tak peduli data, dan alergi terhadap kritik—adalah simbol dari “orang bodoh” dalam kutipan tersebut. Ketika kebijakan didasarkan pada kepentingan sesaat, bukan pada kajian yang objektif, maka rakyatlah yang menjadi korban.
2. Rakyat yang Apatis dan Tertidur
Namun yang lebih tragis adalah, masyarakat yang dipimpin justru menormalisasi kebodohan itu. Tidak sedikit rakyat yang memilih berdasarkan fanatisme sempit, atau bahkan karena transaksional sesaat (money politics). Inilah yang disebut “orang buta”, bukan dalam arti fisik, tapi buta terhadap fakta, buta terhadap masa depan, dan buta terhadap tanggung jawab demokratisnya.
3. Hancurnya Nalar Publik
Media sosial dipenuhi narasi palsu, propaganda, dan manipulasi. Alih-alih menjadi sarana pencerdasan, banyak platform menjadi senjata untuk menyesatkan. Di tengah arus informasi, rakyat seharusnya lebih kritis. Tapi justru kebanyakan tenggelam dalam hoaks, sensasi, dan polarisasi yang membutakan rasionalitas.
4. Demokrasi yang Ditinggalkan
Demokrasi sejatinya menuntut partisipasi aktif dan rasional. Tapi ketika publik tak paham hak dan kewajiban, dan pemimpin tak paham amanah, maka demokrasi hanya tinggal prosedur kosong. Kita memasuki fase di mana kebodohan dilembagakan, dan kebijaksanaan disingkirkan.
Waktunya Bangun dan Melawan
Kita tidak boleh diam. Mengkritik kebodohan bukanlah tindakan subversif, tapi kewajiban moral. Membuka mata rakyat agar tidak terus “buta” adalah kerja peradaban. Kita butuh pemimpin cerdas dan rakyat yang sadar. Jika tidak, kita akan terus hidup di dalam sistem yang menindas dengan senyum, dan menghancurkan masa depan dengan tangan yang tidak tahu apa yang ia lakukan.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Tamrin
#Editorial














