SEKAYU,Penasilet.com – Ketika sebagian besar orang memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiulawal 1448 Hijriah yang jatuh pada Selasa (25/8/2026), dalam ruang-ruang seremonial yang megah, Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Muba memilih jalan yang berbeda.
Senin malam (24/8/2026), kantor organisasi di Jalan Kolonel Wahid Udin, RT 39 RW 05, Kelurahan Balai Agung, Kecamatan Sekayu, berubah menjadi ruang kebersamaan, tempat lantunan Yasin bersahutan dari mulut-mulut kecil anak panti asuhan, berdampingan dengan keluarga besar PWRI Muba.
Bukan acara besar. Bukan panggung megah. Tapi justru di situlah makna Maulid terasa paling dekat.
Kepedulian, Bukan Sekadar Peringatan
Ketua PWRI Muba Andy Mustika, S.E, C.BJ, C.IJ menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ritual tahunan. Ini adalah pernyataan sikap — bahwa organisasi pers di daerah memiliki tanggung jawab sosial yang melampaui tugas jurnalistik.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan rasa kepedulian, kebersamaan, dan semangat berbagi. Semoga apa yang kita lakukan menjadi amal kebaikan serta membawa keberkahan bagi kita semua,” ujar Andy Murex, panggilan akrabnya, kepada wartawan berbagai media di Sekretariat PWRI Muba, Senin (24/8/2026).
Pernyataan itu bukan retorika kosong. Kehadiran anak-anak panti asuhan di tengah keluarga besar PWRI Muba malam itu menjadi bukti bahwa kata-kata tersebut diterjemahkan ke dalam aksi nyata, bukan sekadar ditulis dalam siaran pers.
Yasin, Doa, dan Kehangatan yang Tak Bisa Dibeli
Suasana kekhidmatan memenuhi ruangan sejak pembacaan Yasin dimulai. Anak-anak panti yang hadir tampak larut dalam kebersamaan, sebuah momen sederhana yang bagi mereka mungkin bernilai lebih dari sekadar undangan formal. Rangkaian acara dilanjutkan dengan doa bersama dan ramah tamah, mempererat tali silaturahmi yang kerap kali hanya menjadi jargon di banyak forum resmi.
Di tangan PWRI Muba, momen ini dikelola dengan tulus, tanpa panggung berlebihan, tanpa sponsor besar, murni kepedulian.
Meneladani Rasulullah, Dimulai dari Hal Kecil
Andy Mustika menyampaikan pesan yang lugas dan tegas kepada seluruh hadirin.
“Dengan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, mari kita tingkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan mengamalkan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Keteladanan yang dimaksud bukan sesuatu yang abstrak. Malam itu, PWRI Muba menerjemahkannya dalam bentuk paling sederhana, hadir untuk mereka yang membutuhkan. Anak-anak panti asuhan bukan sekadar tamu undangan, mereka adalah bagian dari keluarga besar yang ingin dirangkul.
Komitmen Berkelanjutan
PWRI Muba berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan organisasi terhadap masyarakat. Di tengah dinamika dunia pers yang semakin kompleks, PWRI Muba membuktikan bahwa wartawan bukan hanya pencatat peristiwa, mereka juga bisa menjadi pelaku kebaikan.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir dan berpartisipasi. Malam itu, kantor PWRI Muba bukan sekadar sekretariat organisasi. Ia menjadi rumah bersama, tempat Maulid dirayakan dengan cara yang paling dekat dengan spirit Rasulullah, berbagi.(Tim/Red).
Editor: Tamrin














