Mafia Tanah Tumbuh Subur di Negara Agraris

Foto: Ilustrasi
Editorial
Oleh: Pimpinan Redaksi Penasilet.com
Edisi: Minggu 11 Januari 2026

JAKARTA,Penasilet.com – Konon katanya, kita hidup di negara agraris. Tanahnya luas, subur, dan diwariskan turun-temurun. Namun ironisnya, justru di negeri yang tanahnya dijadikan identitas nasional, rakyat harus berjuang mati-matian untuk sekadar membuktikan bahwa tanah yang mereka pijak sejak lahir benar-benar milik mereka.

Di sinilah keajaiban itu terjadi: mafia tanah tumbuh lebih subur daripada padi dan sawit. Mereka tak perlu pupuk, tak kenal musim, dan tak takut kekeringan hukum. Cukup bermodal map tebal, cap basah, dan senyum ramah di ruang ber-AC, sebidang tanah rakyat bisa berubah status dalam hitungan hari. Ajaib, bukan?

Petani yang puluhan tahun mencangkul tanahnya tiba-tiba disebut “penduduk liar”. Sertifikat asli kalah pamor dengan selembar kertas fotokopian yang entah dicetak di mana. Yang punya kuasa selalu benar, yang punya bukti selalu disuruh sabar. Sabar menunggu keadilan yang konon sedang diproses, entah sampai kapan.

Lebih menggelikan lagi, negara sering tampil sebagai penonton setia. Aparat saling lempar bola, pejabat berlindung di balik prosedur, sementara mafia tanah bebas berkeliaran seperti pemilik sah negeri ini. Jika tanah bisa bicara, mungkin ia sudah lebih dulu melapor ke lembaga antariksa karena keadilan di bumi terlalu mahal untuk dijangkau.

Tak sedikit rakyat kecil yang akhirnya menyerah. Bukan karena salah, tapi karena lelah. Lelah menghadapi hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Lelah melawan sistem yang lebih ramah pada pemilik kekuasaan ketimbang pemilik kebenaran.

Maka jangan heran jika mafia tanah tumbuh subur. Mereka hidup dari kelengahan negara, disiram pembiaran, dan dipupuk impunitas. Selama hukum lebih sering melindungi pemodal ketimbang pemilik sah, selama itu pula tanah di negeri agraris ini akan terus menjadi ladang empuk bagi para penjarah berdasi.

Ironisnya, di negeri yang katanya tanah adalah sumber kehidupan, justru rakyat mati perlahan demi mempertahankan sejengkal haknya. Dan mafia tanah? Mereka tersenyum, karena di negara agraris ini, yang paling subur bukan keadilan, melainkan kejahatan yang dilegalkan.

Penulis: Pimpinan Redaksi Penasilet.com

#Editorial
#Opini_Publik
#Sorot_Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!