Ketika Manusia Lupa Batas, Alam Menampar Tanpa Ampun

Foto: Ilustrasi
Editorial
Oleh: Redaksi Penasilet.com
Edisi: Minggu, 14 Desember 2025

JAKARTA,Penasilet.com – Ketika manusia lupa bahwa bumi bukan miliknya seorang, alam akan mengingatkan. Dan alam, seperti sejarah berulang kali membuktikan, tak pernah berbicara dengan lembut.

Indonesia hari ini terus menangis. Banjir bandang di Sumatera Utara, Sumatera Barat, longsor di Aceh, gelombang pasang di wilayah pesisir, hingga kabut asap yang rutin kembali setiap musim kemarau. Deretan bencana ini terlalu sering dilabeli sebagai “musibah alam”, seolah-olah datang tanpa sebab dan tanpa campur tangan manusia. Padahal, di balik setiap air yang meluap dan tanah yang runtuh, ada jejak panjang keserakahan manusia dan pembiaran negara.

Hutan dibabat tanpa ampun demi tambang, sawit, dan proyek investasi yang diklaim “demi rakyat”. Namun realitasnya, keuntungan hanya berputar di lingkar sempit elite ekonomi dan politik. Sungai dibendung, dialihkan, dan dicemari tanpa rasa bersalah, seakan air bukan urat nadi kehidupan. Gunung digali, laut dikuras, tanah diracuni, semua atas nama pembangunan. Yang dibangun bukan masa depan, melainkan istana pasir kepentingan jangka pendek yang rapuh dan menipu.

Yang lebih menyakitkan, aparat penegak hukum kerap tampak lumpuh dalam kelumpuhan yang sistemik. Pembalakan liar, tambang ilegal, dan eksploitasi masif dibiarkan hidup, bahkan tumbuh subur. Dalihnya klasik: koordinasi, keterbatasan kewenangan, atau alasan prosedural lainnya. Di titik ini, hukum kehilangan wibawa, sementara alam dipaksa membayar lunas harga pembiaran itu.

Ironinya, setiap kali bencana datang, respons yang muncul hampir selalu seragam: status tanggap darurat, bantuan logistik, kunjungan pejabat, dan panggung pencitraan kemanusiaan. Semua sibuk mengobati luka di permukaan, tetapi nyaris tak ada yang berani menyentuh akar masalah. Siapa yang bersuara lantang bahwa bencana ini adalah buah dari kebijakan yang abai, dari kerakusan yang dilegalkan, dari manusia yang lupa batas?

Alam sejatinya tidak pernah lalai. Ia hanya menagih keseimbangan yang dilanggar. Namun manusia terlalu sering merasa berkuasa, seolah hukum alam bisa dinegosiasikan dengan modal dan kekuasaan. Maka ketika langit murka dan bumi marah, jangan salahkan takdir. Salahnya ada pada manusia yang rakus, tamak, dan pura-pura tuli terhadap peringatan demi peringatan.

Jika negara tak juga sadar, jika kebijakan terus tunduk pada uang dan bukan pada akal sehat serta keberlanjutan, maka satu hal patut diyakini: peringatan berikutnya dari alam tidak akan lebih lembut. Ia akan datang lebih keras, lebih kejam, dan lebih mahal ongkos kemanusiaannya.

Sementara itu, para pejabat tetap berpidato lantang tentang “kelestarian lingkungan”, “transisi energi”, dan “keberlanjutan”, dari podium berpendingin udara, jauh dari suara gemuruh banjir, jerit korban longsor, dan bau asap yang menyesakkan. Ironi inilah yang kini menjadi wajah bangsa: kata-kata indah di atas kertas, berbanding terbalik dengan kenyataan pahit di lapangan.

Alam punya cara sendiri untuk menyeimbangkan yang dilanggar. Dan jika manusia terus lupa batas, tamparan berikutnya tinggal menunggu waktu.

Penulis: Redaksi Penasilet.com
Editor. : Tamrin

#Editorial
#Opini_Publik
#Sorot_Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!