Jalan Nasional Jadi Ancaman: Warga Keluhkan Aktivitas Armada PT Ulima Nitra, Debu dan Lumpur Picu Kekhawatiran Keselamatan

MUSI BANYUASIN,Penasilet.com – Gelombang keluhan masyarakat kembali mencuat dari wilayah Kecamatan Tungkal Jaya, Kabupaten Musi Banyuasin. Kali ini, warga menyoroti aktivitas operasional armada kendaraan milik PT Ulima Nitra yang diduga menjadi penyebab utama terganggunya kenyamanan, keselamatan, dan kesehatan masyarakat di sepanjang Jalan Lintas Palembang–Jambi, tepatnya di kawasan Desa Peninggalan hingga Desa Simpang Tungkal.

Ruas jalan nasional yang menjadi jalur vital penghubung Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi itu kini disebut berada dalam kondisi memprihatinkan. Berdasarkan laporan warga yang dihimpun pada Rabu (20/05/2026), badan jalan dipenuhi ceceran tanah yang diduga berasal dari kendaraan proyek perusahaan yang keluar masuk area operasional.

Kondisi tersebut menimbulkan dampak serius bagi masyarakat dan pengguna jalan. Saat cuaca panas, debu tebal beterbangan hingga mengganggu jarak pandang pengendara dan memicu kekhawatiran terhadap gangguan kesehatan pernapasan, termasuk potensi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Sementara ketika hujan turun, material tanah berubah menjadi lumpur licin yang dinilai sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan.

“Ceceran tanah ini kayaknya dari aktivitas kendaraan yang keluar dari PT UN,” ungkap seorang warga yang tinggal di sekitar lokasi kepada tim media.

Menurut warga, persoalan tersebut bukan lagi insiden sesaat, melainkan kondisi yang terus berulang tanpa adanya penanganan serius. Mereka menilai aktivitas operasional armada perusahaan terkesan tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan maupun keselamatan publik.

“Kalau panas jalan jadi sangat berdebu, terasa sekali saat bernapas. Tapi kalau habis hujan, jalan berubah becek dan licin,” ujar warga lainnya dengan nada kecewa.

Situasi itu memicu keresahan luas di tengah masyarakat. Jalan lintas Palembang–Jambi yang selama ini menjadi akses utama mobilitas warga dan jalur strategis transportasi antarprovinsi kini disebut berubah menjadi titik rawan kecelakaan akibat material tanah yang terus berserakan di badan jalan.

Warga pun mendesak manajemen PT Ulima Nitra agar segera mengambil langkah konkret dan bertanggung jawab. Di antaranya dengan melakukan pembersihan jalan secara berkala, pengendalian debu, hingga memastikan setiap armada kendaraan tidak membawa material yang tercecer ke jalan umum.

Tak hanya itu, masyarakat juga meminta pemerintah daerah, dinas terkait, hingga aparat penegak hukum untuk turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem operasional perusahaan, termasuk pengawasan terhadap dokumen amdal, standar keselamatan kerja, serta kepatuhan terhadap aturan lingkungan hidup.

Masyarakat menilai persoalan tersebut tidak bisa lagi dianggap sepele. Mereka khawatir pembiaran yang terus berlangsung justru akan membuka potensi terjadinya kecelakaan fatal di jalur padat kendaraan tersebut.

“Jangan tunggu ada korban dulu baru bertindak,” tegas warga.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Ulima Nitra belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan masyarakat. Upaya konfirmasi dan permintaan klarifikasi yang telah disampaikan melalui pesan WhatsApp juga belum mendapat tanggapan.

“(Tim Liputan)”.

Editor: Tamrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!