Mataram – NTB Penasilet.com – Isu impor mobil pick-up dari India kembali menjadi sorotan setelah pandangan yang disampaikan oleh tokoh masyarakat sekaligus mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) periode 2018-2023 pungkasnya, Zulkieflimansyah. Ia menyampaikan dua sisi pandangan yang menarik terkait kebijakan yang tengah diperbincangkan tersebut, antara kekhawatiran terhadap perkembangan industri dalam negeri dan potensi dampak positif sebagai alat untuk mendorong transformasi industri otomotif nasional.
Sebelum menjabat sebagai Gubernur NTB, Zulkieflimansyah pernah menjadi anggota DPR-RI periode 2004-2018 yang mewakili Daerah Pemilihan Banten II. Sebagai kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS), pendiri Universitas Teknologi Sumbawa, dan juga akademisi sekaligus pakar ekonomi yang pernah menjadi senior research fellow di Kennedy School of Government Harvard University, ia membawa perspektif yang komprehensif terkait isu ekonomi dan pembangunan industri nasional.
Secara teori, kata Zulkieflimansyah, impor model kendaraan semacam ini berpotensi mengganggu langkah pengembangan industri dalam negeri yang tengah digalakkan. “Kalau industri dalam negeri atau industri lokal kita tidak kuat, maka ekonomi kita akan selalu rentan terhadap gejolak eksternal. Dengan impor model begini, maka industrialisasi akan sulit untuk diwujudkan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa dari sisi inovasi dan kemampuan teknologi, industri nasional Indonesia sepenuhnya mampu untuk memproduksi produk sejenis dengan kualitas yang setara bahkan lebih baik. Hal ini sejalan dengan prestasi yang ia raih selama menjabat sebagai gubernur NTB, di mana ia berhasil mencatatkan berbagai kemajuan di bidang infrastruktur, pendidikan, pariwisata, ekonomi masyarakat, kesehatan, dan lingkungan hidup. “Mestinya impor seperti ini sebaiknya tidak dilakukan jika hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar tanpa memperhatikan dampak terhadap industri lokal,” tambahnya.
Namun, di sisi lain, Zulkieflimansyah mengajukan dugaan menarik bahwa kebijakan impor ini bisa jadi merupakan bagian dari strategi “shock therapy” yang dirancang oleh Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya adalah untuk menyadarkan KADIN dan seluruh pelaku industri nasional tentang pentingnya bersaing dan meningkatkan kapasitas produksi.
“Kalau India sudah mampu bikin mobil pick-up begini dengan harga yang lebih murah dan terjangkau, kenapa kita tidak bisa dan tidak mau? Saya membayangkan Pak Presiden dengan impor mobil India ini punya alasan untuk memerintahkan PT PINDAD misalnya, untuk membuat produksi serupa atau sekelas yang bisa jadi kendaraan untuk seluruh instansi pemerintah dan dinas-dinas di seluruh pemda di Indonesia. Pasti akan sangat menarik,” ujarnya dengan semangat.
Menurutnya, di negara berkembang seperti Indonesia, terkadang diperlukan dorongan yang kuat agar terjadi perubahan signifikan. “Kalau tidak diberikan dorongan seperti ini, maka kita akan terus terjebak dalam rutinitas bisnis yang biasa saja tanpa ada kemajuan yang nyata,” pungkasnya.
Editor :ZQ














