Foto: Ilustrasi
Editorial
Oleh: Pimpinan Redaksi Penasilet.com
Edisi: Selasa, 12 Mei 2026
JAKARTA,Penasilet.com – Dua puluh delapan tahun sudah berlalu sejak suara tembakan memecah siang di Jakarta dan mengubah arah sejarah Indonesia. Namun setiap tanggal 12 Mei datang, ingatan bangsa ini seolah dipaksa kembali membuka luka lama yang belum benar-benar sembuh. Di pelataran kampus Universitas Trisakti, darah empat mahasiswa muda tumpah bukan karena perang, bukan karena kriminalitas, tetapi karena keberanian mereka menuntut perubahan bagi negerinya sendiri.
Nama-nama itu hingga hari ini tetap hidup dalam nurani publik: Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka bukan sekadar korban. Mereka adalah simbol keberanian generasi muda yang berdiri di garis depan saat negara kehilangan kepekaan terhadap suara rakyatnya sendiri.
Pada 12 Mei 1998, mahasiswa turun ke jalan bukan untuk mencari popularitas politik, melainkan membawa kegelisahan jutaan rakyat yang tercekik krisis ekonomi, kemiskinan, korupsi, dan kekuasaan yang terlalu lama tak tersentuh kritik. Ketika peluru ditembakkan ke arah mahasiswa, yang runtuh bukan hanya tubuh-tubuh muda itu, tetapi juga legitimasi moral rezim yang selama 32 tahun mengendalikan Indonesia dengan tangan besi.
Tragedi itu menjadi api yang membakar kesadaran nasional. Hanya beberapa hari setelahnya, gelombang kemarahan rakyat meluas. Jakarta terbakar. Negeri berada di ambang kehancuran. Dan akhirnya, sejarah mencatat tumbangnya pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto pada 21 Mei 1998. Reformasi lahir dari rahim penderitaan dan pengorbanan.
Namun pertanyaan paling penting di tahun 2026 bukan lagi sekadar bagaimana Reformasi dimulai, melainkan: apakah cita-cita Reformasi benar-benar hidup hingga hari ini?
Bangsa ini memang telah berubah. Demokrasi tumbuh lebih terbuka. Pers lebih bebas. Pemilu berlangsung langsung. Kritik terhadap pemerintah tidak lagi dianggap ancaman negara. Tetapi di balik semua kemajuan itu, rakyat masih menyaksikan wajah lama kekuasaan yang terus berganti topeng.
Korupsi tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berevolusi menjadi lebih rapi, lebih modern, dan lebih sulit disentuh. Politik transaksional tetap menjadi penyakit kronis demokrasi Indonesia. Kekuasaan kerap lebih sibuk membangun citra dibanding membangun keadilan. Bahkan ironi terbesar Reformasi hari ini adalah ketika sebagian generasi muda mulai kehilangan ingatan tentang mengapa Reformasi dulu diperjuangkan dengan darah.
Lebih menyakitkan lagi, penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu masih berjalan di tempat. Tragedi Trisakti terus dikenang setiap tahun, tetapi keadilan substantif bagi korban dan keluarga korban belum benar-benar hadir. Negara seolah pandai menggelar seremoni, tetapi lamban menghadirkan keberanian politik untuk menuntaskan hutang sejarah.
Di sinilah publik perlu jujur mengakui bahwa Reformasi belum selesai.
Reformasi bukan monumen mati yang cukup diperingati dengan tabur bunga dan pidato seremonial. Reformasi adalah pekerjaan panjang menjaga demokrasi agar tidak kembali dibajak oligarki, menjaga hukum agar tidak tunduk pada kekuasaan, dan memastikan rakyat kecil tidak terus menjadi korban dari sistem yang timpang.
Generasi muda hari ini menghadapi tantangan berbeda dibanding mahasiswa 1998. Dulu musuhnya jelas: otoritarianisme. Kini ancamannya lebih samar namun sama berbahayanya—disinformasi digital, politik identitas, manipulasi opini publik, ketimpangan ekonomi, dan pudarnya idealisme dalam ruang demokrasi yang semakin gaduh.
Karena itu, semangat Reformasi harus dimaknai ulang. Bukan sekadar melawan rezim, tetapi melawan apatisme. Melawan ketakutan untuk bersuara. Melawan budaya diam ketika keadilan diinjak-injak.
Indonesia boleh berubah zaman, teknologi boleh berkembang, tetapi pesan moral dari Tragedi Trisakti tetap relevan: demokrasi tidak pernah lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian rakyat menjaga nurani bangsanya.
Tanggal 12 Mei 2026 seharusnya menjadi alarm moral bagi seluruh elite negeri ini. Bahwa kekuasaan tanpa kontrol akan selalu berpotensi melahirkan kesewenang-wenangan. Bahwa mahasiswa bukan musuh negara, melainkan penjaga terakhir akal sehat demokrasi. Dan bahwa darah para pejuang Reformasi tidak boleh sekadar menjadi catatan kaki sejarah.
Indonesia tidak boleh lupa.
Sebab bangsa yang melupakan pengorbanan para martirnya, perlahan akan kehilangan arah masa depannya sendiri.
Selamat memperingati Hari Reformasi 12 Mei 2026.
Hormat setinggi-tingginya bagi para pahlawan Reformasi.
#Editorial
#Opini_Publik
#Sorot_Media
#Hari_Reformasi
#Indonesia














