Foto: Ilustrasi
Editorial
Oleh: Pimpinan Redaksi Penasilet.com
Edisi: Kamis, 15 Januari 2025
JAKARTA,Penasilet.com – Selamat dan tepuk tangan meriah patut diberikan kepada Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin atas kelahiran tagline barunya: “Muba Maju Lebih Cepat.” Sebuah frasa pendek, ringan diucap, berat di imajinasi. Tagline ini bukan sekadar slogan, ia adalah harapan, doa, sekaligus tantangan logika.
Namun agar “maju” tidak berhenti sebagai aksesoris baliho dan “cepat” tidak sekadar berlomba dengan waktu pencetakan spanduk, ada beberapa prioritas strategis yang wajib dipertahankan, tentu saja demi konsistensi kemajuan versi satir.
1. Wisata Off-Road Gratis di Jalan Lintas
Kenapa harus repot-repot mengaspal jalan rusak jika lubang-lubang itu bisa dijual sebagai wahana uji nyali gratis? Jalan lintas Muba sejatinya adalah sirkuit off-road alami, lengkap dengan efek kejut mendadak dan bonus doa spontan dari pengendara.
Lubang yang semakin dalam bukan tanda kelalaian, melainkan simbol tantangan. Di sinilah rakyat dilatih tangguh, kendaraan diuji iman shockbreaker-nya, dan sopir truk diajak berdzikir lebih intens. Bukankah itu bagian dari pembangunan karakter?
2. Memperbanyak Tugu dan Seremonial Pintar
Ekonomi boleh goyah, dapur boleh mengepul tipis, tapi tugu tidak boleh kalah tinggi. Sebab kemajuan daerah hari ini diukur dari seberapa sering pejabat memegang gunting pita dan seberapa ramai unggahan seremoni di media sosial.
Semakin banyak tugu, semakin terasa maju. Semakin sering acara simbolik digelar, semakin kuat ilusi kesejahteraan. Soal fungsi? Itu urusan nanti. Yang penting ada dokumentasi dan caption inspiratif.
3. Festival “Sinyal Gaib” di Pelosok Desa
Internet cepat itu terlalu biasa. Justru daerah tanpa sinyal harus dijaga sebagai kawasan konservasi keterisolasian digital. Warga yang memanjat pohon demi satu bar sinyal sesungguhnya sedang menjalani program kebugaran berbasis kearifan lokal.
Ini bukan ketertinggalan, tapi digital detox versi rakyat. “Maju lebih cepat” di sini jelas: maju ke cabang pohon yang lebih tinggi, bukan ke akses informasi.
4. Birokrasi Lari Estafet
Kecepatan sejati bukan soal hasil, tapi soal proses yang terlihat sibuk. Maka birokrasi harus tetap berlapis dan berliku. Berkas berpindah tangan seperti estafet bukan pemborosan waktu, melainkan bukti kerja keras sistem.
Jika satu urusan bisa selesai satu jam, itu mencurigakan. Tapi jika bisa selesai dua minggu dengan lima lembar fotokopi dilegalisir dan tiga tanda tangan basah, di situlah letak profesionalisme aparatur yang “maju”.
5. Membangun Gengsi, Bukan Fungsi
Merawat fasilitas lama itu melelahkan dan minim nilai proyek. Jauh lebih elegan membangun gedung baru di sebelah bangunan lama yang terbengkalai. Gedung kosong adalah simbol kemakmuran, tanda bahwa anggaran kita cukup besar untuk dipajang, bukan dipakai. Muba yang maju adalah Muba yang penuh bangunan megah, meski sunyi tanpa aktivitas. Sebab fungsi bisa menunggu, gengsi harus didahulukan.
Kesimpulan
Jika prioritas-prioritas mulia ini terus dijaga, maka tagline “Muba Maju Lebih Cepat” pasti tercapai. Maju lebih cepat dalam jumlah seremoni, kecepatan ganti slogan, dan kecepatan melupakan masalah lama yang tak kunjung selesai.
Karena dalam dunia satir pembangunan, yang penting bukanlah sampai ke tujuan, melainkan tetap terlihat percaya diri, meski tersesat dengan penuh gaya.
Dan Muba, tampaknya, sudah berlari sangat cepat ke arah itu.
Penulis: Pimpinan Redaksi Penasilet.com
#Editorial
#Opini_Publik
#Sorot_Media














