Jika Keadilan Ada, Penjara Akan Diisi Politisi – Bukan Orang Miskin

Foto: Ilustrasi
Opini Publik
Editorial
Oleh: Redaksi Penasilet.com
Senin,24 November 2025

JAKARTA,Penasilet.com – Kutipan yang sering dikaitkan dengan Niccolò Machiavelli ini terasa seperti tamparan keras, terutama bagi negara yang sibuk berteriak soal keadilan, tapi membiarkan hukum bekerja hanya untuk kelas tertentu. Dan tamparan itu sah untuk kita rasakan, karena sampai hari ini, keadilan masih berwujud selektif:
tumpul ke atas, galak ke bawah, disiplin menghukum rakyat kecil, tapi jinak saat berhadapan dengan kekuasaan.

KITA HIDUP DI NEGERI DI MANA MISKIN ITU KRIMINAL, DAN BERKUASA ITU PEMAAF

Realitasnya menyakitkan:
Yang miskin masuk penjara karena: mencuri demi makan, melanggar aturan kecil, atau tak mampu membayar pengacara.

Sementara yang punya jabatan?
Masuk penjara kalau kasusnya sudah terlalu bau busuk untuk ditutup-tutupi.

Dan itupun seringnya: hukumannya ringan, fasilitasnya mewah, statusnya tetap terhormat, bahkan bisa kembali berkontestasi politik.

Jika Machiavelli hidup hari ini, mungkin ia akan berkata: “Negara gagal kalau penjara tidak pernah menyentuh mereka yang merusak negara dari kursi kekuasaan.”

KORUPSI: DOSA TERBESAR, HUKUMANNYA TERKECIL

Rakyat kecil mungkin merugikan satu-dua orang.Tapi politisi korup merugikan keseluruhan generasi.

Ironisnya?..Yang paling sering ditangkap justru: pencuri sandal, pencuri ayam, pelanggar aturan receh, sementara para penguasa yang menguap-kan miliaran, bahkan triliunan, sering dikelilingi kamera dan tepuk tangan, bukan borgol.

Ini bukan lagi fenomena hukum.
Ini fenomena kemunafikan institusional.

HUKUM DI NEGERI INI TERLALU MUDAH MEMA’AFKAN YANG BERKUASA

Kita harus jujur: Sebagian besar politisi tidak takut hukum, mereka mengelola hukum.
Mereka bukan hanya pembuat aturan, tapi kadang juga penentu siapa yang boleh disentuh dan siapa yang tidak.

Dan selama struktur ini dibiarkan, keadilan tak lebih dari panggung sandiwara:
indah di poster, kosong di kenyataan.

KEADILAN SEBENARNYA SEDERHANA: SIAPA YANG MERUGIKAN RAKYAT, ITULAH YANG SEHARUSNYA DIPENJARA

Tapi di negeri ini, ukuran keadilan sering dibalik:
Rakyat kecil dihukum karena melanggar hukum.
Politisi dimaafkan karena “jasa politik”. Padahal yang merusak negara bukan rakyat kecil, melainkan mereka yang mengkhianati jabatan.

Jika keadilan tegak tanpa kompromi, maka penjara akan lebih banyak dihuni:

koruptor, penyalahguna anggaran, pejabat pemeras, pembuat kebijakan yang merugikan publik, daripada rakyat yang hanya berjuang bertahan hidup.

JIKA KEADILAN ADA, KEKUASAAN TAK AKAN MENJADI PERISAI

Itulah inti dari kutipan Machiavelli tadi.
Sebuah refleksi pahit:
Bahwa sistem hukum sering sibuk mengejar yang lemah, tapi takut menghadapi yang kuat.

Keadilan tidak akan lahir dari slogan.
Keadilan lahir ketika hukum berhenti tunduk pada jabatan.

Dan jika itu terjadi, maka benar:
penjara akan penuh oleh mereka yang memerintah negara, bukan mereka yang diperintah.

Penulis: Redaksi Penasilet.com
Editor: Tamrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!