Merdeka, Tapi Masih Terjajah oleh Bangsa Sendiri: Aktivis Januardi Manurung Sindir Pedas Pemimpin dan Birokrasi

JAKARTA,Penasilet.com – Di tengah gegap gempita perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia yang dihiasi bendera merah putih, parade, hingga pesta rakyat, muncul suara lantang dari kalangan aktivis yang menyoroti makna kemerdekaan yang dinilai semakin jauh dari cita-cita para pendiri bangsa.

Januardi Manurung, aktivis sekaligus Pimpinan Redaksi media Penasilet.com, yang menegaskan bahwa bangsa ini sebenarnya belum benar-benar merdeka. Menurutnya, setelah lepas dari penjajahan Belanda dan Jepang, Indonesia justru dijajah oleh bangsa sendiri melalui praktik korupsi, birokrasi kotor, dan ketidakadilan yang merajalela.

“Hari ini rakyat kita berteriak merdeka, tapi faktanya masih dijajah oleh pejabat rakus yang menggerogoti uang negara. Penjajah modern itu bukan lagi berkulit putih atau bersenjata, melainkan pejabat yang pura-pura mewakili rakyat tapi hanya memperkaya diri,” tegas Januardi dengan nada geram saat memberikan tanggapan eforia HUT RI ke 80 di Jakarta, Senin (18/8/2025).

Rakyat Masih Hidup dalam Penjajahan Baru

Januardi Manurung menilai, kemerdekaan yang seharusnya menghadirkan kesejahteraan dan keadilan sosial, kini hanya sebatas jargon politik. Rakyat kecil masih harus berjuang keras untuk sekadar makan, biaya sekolah kerap memberatkan, rumah layak masih menjadi mimpi, dan akses kesehatan berkualitas hanya tersedia bagi mereka yang mampu membayar mahal.

“Ini bukan sekadar nasib atau kebetulan. Semua adalah akibat langsung dari tata kelola negara yang bobrok. Fenomena pungutan liar di sekolah, anggaran desa yang tidak transparan, sampai proyek aspirasi dewan yang dikerjakan asal-asalan, hanyalah puncak gunung es. Rakyat sengsara karena pejabatnya mengkhianati amanah,” ujarnya.

Korupsi Jadi Musuh Utama

Lebih lanjut, Januardi menyoroti praktik korupsi yang menurutnya sudah membudaya dan tidak pernah mendapatkan hukuman setimpal. Ia menyebut, penegakan hukum terhadap koruptor selama ini penuh dengan drama dan jauh dari rasa keadilan rakyat.

“Kalau maling ayam bisa dipenjara bertahun-tahun, kenapa koruptor yang merampok triliunan justru mendapat hukuman ringan? Bahkan ada yang masih bebas tersenyum di balik jeruji. Hukuman mati untuk koruptor hanya jadi wacana kosong tanpa keberanian eksekusi. Ini jelas bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan,” sindirnya tajam.

Kritik Langsung ke Presiden

Dalam pernyataannya, Januardi Manurung juga mendesak Presiden untuk tidak tinggal diam menghadapi kondisi ini. Menurutnya, seorang kepala negara wajib turun langsung membersihkan birokrasi dari oknum rakus yang mempermainkan kepercayaan rakyat.

“Presiden tidak boleh hanya jadi penonton di balik layar. Tugas utama seorang pemimpin adalah melindungi rakyat, bukan memberi ruang kepada para pengkhianat bangsa. Copot pejabat yang korup, bersihkan birokrasi, dan biarkan mereka merasakan bagaimana pahitnya hidup sebagai rakyat kecil,” kata Januardi Manurung.

Kemerdekaan Semu

Aktivis yang dikenal vokal ini menegaskan, kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan asing, melainkan juga terbebas dari keserakahan internal yang terus menghisap rakyat. Selama keadilan sosial tidak terwujud, maka kemerdekaan Indonesia hanyalah fatamorgana.

“Merdeka tanpa keadilan sosial hanyalah kemerdekaan semu. Tidak ada artinya kita teriak merdeka kalau kemakmuran hanya dikuasai segelintir elit, sementara mayoritas rakyat terus dihimpit kemiskinan dan ketidakadilan,” pungkasnya dengan suara lantang.

Pernyataan kritis Januardi Manurung ini menjadi refleksi tajam di tengah semarak perayaan kemerdekaan. Di balik kembang api dan seremonial bendera, suara rakyat masih menjerit, menuntut janji kemerdekaan yang sejati: kesejahteraan, keadilan, dan kebebasan dari penjajahan bangsa sendiri.”(Red)”

Editor: Tamrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!