Wilson Lalengke Dunia Kian Tegang, Perang di Timur Tengah: Seruan Keadilan dan Perdamaian dari Indonesia

JAKARTA,Penasilet.com – Dunia internasional kembali diguncang oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Serangan yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran memicu kekhawatiran meluasnya perang terbuka yang berpotensi mengguncang stabilitas regional dan mengancam keselamatan jutaan warga sipil. Situasi yang berkembang cepat ini dinilai membutuhkan respons global yang tegas, bijak, dan berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan universal.

Aktivis hak asasi manusia internasional asal Indonesia, Wilson Lalengke, menyampaikan keprihatinan mendalam atas konflik yang terus memanas. Menurutnya, eskalasi militer bukan hanya persoalan geopolitik, tetapi juga tragedi kemanusiaan yang menggerus harapan rakyat untuk hidup damai dan bermartabat.

“Saya berharap perang yang dipicu oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran segera berakhir. Dunia tidak boleh membiarkan konflik ini meluas dan menghancurkan harapan rakyat dunia untuk hidup damai. Saya mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengambil tindakan nyata dalam meredakan perang dan mengembalikan stabilitas internasional,” tegas Wilson Lalengke Petisioner HAM PBB tahun 2025, Senin (2/3/2026).

Pernyataan tersebut mencerminkan desakan moral agar lembaga internasional tidak tinggal diam menghadapi penderitaan yang terus bertambah. Tekanan terhadap PBB dinilai semakin relevan di tengah ancaman meluasnya konflik lintas batas negara yang berisiko menyeret aktor-aktor global lainnya.

Filsafat Dunia dan Kritis atas Perang

Dalam sejarah panjang peradaban manusia, perang kerap dipandang sebagai kegagalan moral dan politik. Filsuf Yunani kuno, Plato, menekankan bahwa keadilan merupakan fondasi utama suatu masyarakat. Perang yang lahir dari ketidakadilan, menurutnya, hanya akan menjerumuskan manusia pada kekacauan dan kehancuran tatanan sosial.

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan filsuf Jerman, Immanuel Kant, dalam karyanya Perpetual Peace. Kant menegaskan bahwa perdamaian abadi hanya dapat tercapai apabila negara-negara menghormati hukum internasional serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. Tanpa komitmen terhadap prinsip tersebut, konflik akan terus berulang dalam siklus kekerasan.

Sementara itu, filsuf Inggris John Locke mengingatkan bahwa negara dibentuk untuk melindungi kehidupan, kebebasan, dan hak milik. Ketika perang justru merenggut ketiganya, maka kontrak sosial yang menjadi dasar legitimasi kekuasaan negara telah dikhianati.

Seruan moral serupa juga digaungkan pemimpin spiritual India, Mahatma Gandhi, yang menegaskan bahwa kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru. Baginya, dialog, kejujuran, dan non-kekerasan merupakan satu-satunya jalan menuju perdamaian sejati.

Peran Indonesia di Tengah Krisis Global

Di tengah pusaran konflik tersebut, muncul pertanyaan mengenai sikap yang seharusnya diambil Indonesia. Sebagai negara yang berlandaskan Pancasila dan menganut politik luar negeri bebas aktif, Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk menyerukan perdamaian dunia.

Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menegaskan bahwa setiap manusia adalah ciptaan Tuhan yang mulia dan wajib dilindungi hak hidupnya. Prinsip ini selaras dengan Sila Kedua Pancasila tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, yang menempatkan penghormatan terhadap hak hidup sebagai kewajiban universal bangsa-bangsa beradab.

Diplomasi yang mengedepankan kebijaksanaan, solidaritas antarbangsa, serta penghormatan terhadap hukum internasional dinilai harus menggantikan pendekatan kekerasan. Perdamaian menjadi prasyarat utama bagi terwujudnya keadilan sosial, baik di tingkat nasional maupun global.

Merujuk pada pandangan para filsuf dunia dan nilai dasar negara, Indonesia dinilai dapat mengambil peran sebagai suara moral di forum internasional, termasuk di PBB, guna mendorong penghentian perang dan membuka ruang dialog yang konstruktif. Hal tersebut sejalan dengan amanat konstitusi untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Ujian bagi Dunia Internasional

Eskalasi perang di Timur Tengah kini menjadi ujian bagi komunitas global.
Apakah dunia akan membiarkan kekerasan terus berlangsung dan memperluas lingkaran konflik, atau memilih jalan diplomasi dan perundingan?

Seruan yang disampaikan Wilson Lalengke menjadi pengingat bahwa perang bukan sekadar strategi politik, melainkan tragedi kemanusiaan. Filsafat dunia dan nilai Pancasila sama-sama menegaskan bahwa perang adalah kegagalan moral, sementara perdamaian adalah kemenangan peradaban.

Kini, sorotan tertuju pada langkah konkret komunitas internasional. Dunia dihadapkan pada pilihan historis mempertahankan siklus kekerasan atau bersama-sama membangun masa depan yang lebih adil, stabil, dan damai bagi seluruh umat manusia.(Tim/Red).

Editor: Tamrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!