Foto: Ilustrasi
Editorial
Oleh: Pimpinan Redaksi Penasilet.com
Edisi: Sabtu, 3 Januari 2026
JAKARTA,Penasilet.com – Sungguh sebuah momen yang mengharukan, nyaris setara dengan memenangkan Piala Dunia, menyaksikan kebijakan Gubernur Sumatera Selatan dan Bupati Musi Banyuasin yang akhirnya melarang truk batubara melintasi jalan umum. Sebuah keputusan yang layak disambut dengan sujud syukur massal, doa bersama, bahkan mungkin tumpeng tujuh rupa. Pasalnya, setelah sekian lama, pemerintah kita tampaknya baru menyadari satu hal revolusioner: jalan raya dibangun untuk mobilitas warga, bukan sebagai sirkuit balap “emas hitam” yang menguji nyawa.
Keajaiban Bernama “Konsistensi”
Masyarakat Musi Banyuasin dan sekitarnya kini sedang berada dalam fase euforia kolektif. Bukan karena harga sembako turun, apalagi layanan publik meningkat. Bukan. Euforia ini muncul karena mereka menyaksikan fenomena langka yang lebih jarang dari gerhana matahari total, pemerintah yang konsisten menjalankan aturannya sendiri.
Bayangkan, Undang-Undang, Perda, hingga Pergub, yang selama ini mungkin hanya berfungsi sebagai hiasan dinding atau tumpukan kertas berdebu di lemari arsip, tiba-tiba hidup, bernapas, dan dipraktikkan. Sebuah prestasi yang begitu revolusioner. Menjalankan aturan yang sudah dibuat memang terdengar seperti standar minimal bekerja, tetapi di negeri ini, itu adalah lompatan kuantum yang layak dianugerahi medali kehormatan.
Selamat Tinggal “Wisata Debu” Gratis
Mari kita beri apresiasi setinggi-tingginya kepada para pembuat kebijakan. Terima kasih karena telah mencabut “hak istimewa” masyarakat untuk menikmati berbagai fasilitas unggulan, antara lain:
Masker alami dari debu batubara yang membuat paru-paru terasa penuh pengalaman hidup.
Lubang-lubang artistik di aspal yang mengubah perjalanan ke kantor menjadi simulasi off-road ekstrem.
Debat batin setiap pagi, sampai di tujuan dengan selamat, atau berakhir sebagai statistik kecelakaan lalu lintas akibat truk yang bermuat melebihi kapasitas daya angkut lebih berat dari harapan masa depan kita.
Kini, perlahan, semua “kenikmatan” itu mulai ditarik kembali. Sebuah kehilangan yang tentu tidak akan dirindukan.
Harapan yang Terlalu Mewah?
Namun, di balik rasa syukur ini, masyarakat menaruh satu harapan yang tampaknya cukup mewah, semoga konsistensi ini tidak seperti semangat resolusi tahun baru, menggebu-gebu di minggu pertama, menguap di minggu kedua.
Jangan sampai kebijakan ini hanya berumur pendek, seperti drama Korea dengan episode terakhir yang menggantung. Hari ini jalannya dilarang, besok truknya “tersesat” lewat jalan tikus. Lusa, kita pura-pura lupa, dan minggu depan semuanya kembali normal, normal versi lama yang penuh debu, retak, dan korban.
Maka, mari kita dukung penuh pemerintah untuk tetap sadar bahwa jalan umum adalah milik publik, bukan ruang kompromi bagi kepentingan korporasi yang logistiknya enggan membangun jalan sendiri.
Tetaplah konsisten, Pak Gubernur dan Pak Bupati. Jangan biarkan kami kembali ke masa di mana hukum hanya sekadar saran, dan jalan umum adalah milik siapa pun yang memiliki truk paling berat muatannya.
Penulis: Pimpinan Redaksi Penasilet.com
#Editorial
#Opini_Publik
#Sorot_Media














