Negeri “Haram Cuma Babi”

Foto: Ilustrasi
Editorial
Oleh: Pimpinan Redaksi Penasilet.com
Edisi: Minggu, 4 Januari 2026

JAKARTA,Penasilet.com – Sungguh sebuah pencerahan yang nyaris mistis! Akhirnya kita menemukan definisi “haram” yang paling praktis, ringkas, dan ramah kepentingan: cukup daging babi. Selebihnya? Silakan sikat habis, asal rapi, asal licin, asal tak berisik. Di negeri ini, dosa tampaknya hanya soal menu, bukan soal cara hidup.

Uang hasil nilep? Halal. Uang dari hutan yang dibabat? Halal. Uang dari keringat rakyat yang diperas sampai kering? Halal, bahkan dianjurkan, selama jumlah nolnya berlimpah.

Di sini, uang tak punya warna, tak punya bau, apalagi dosa. Legal or illegal, money is money. Katanya, surga pun kini bisa dicicil—DP-nya cukup tebal, bunganya bernama “izin”.

Pemandangan paling menyentuh hati adalah ketika para penjaga moral, yang mestinya berdiri di garis depan etika, justru berdiri paling depan dalam antrean jatah eksploitasi. Barangkali mereka sedang mengamalkan teologi baru, “Menjaga alam itu urusan langit, mengelola tambang itu urusan dompet.” Sebuah dedikasi spiritual yang sangat materialistis, penuh khusyuk dan penuh kuitansi.

Kita juga patut bertepuk tangan pada aturan pelestarian alam yang begitu tegas, khusus untuk rakyat kecil. Ambil kayu sebatang buat masak? Dosa sosial plus pasal berlapis.

Tapi jika modal besar dan koneksi licin sudah di tangan, hukum berubah fungsi, bukan palu, melainkan tisu, untuk menghapus noda yang dianggap tak pernah ada.

Agama dan undang-undang di negeri ini konon sangat “fleksibel” bisa menunduk, meliuk, bahkan bersujud mengikuti arah koper berisi uang.

Maka jangan heran bila hutan gundul, tanah, air, udara tercemar oleh ulah eksploitasi ilegal dan bencana datang bergiliran, seperti agenda tahunan yang disepakati diam-diam. Selama prinsipnya masih “haram cuma babi”, kehormatan akan tetap murah, integritas tetap diskon, dan alam tetap obral.

Selamat menikmati negerimu, tempat moralitas bisa dinegosiasikan, selama harganya cocok. Di etalase kebajikan, labelnya jelas, Best Seller. Pembelinya? Mereka yang tak pernah kenyang, tapi selalu merasa paling suci.(*).

Penulis: Pimpinan Redaksi Penasilet.com

#Editorial
#Opini_Publik
#Sorot_Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!