MUSI BANYUASIN,Penasilet.com – Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) selama ini dikenal sebagai salah satu daerah kaya sumber daya alam di Sumatera Selatan. Minyak dan gas bumi mengalir dari perut buminya, sementara hamparan perkebunan sawit mendominasi lanskap daratannya. Namun di tengah limpahan potensi tersebut, Pendapatan Asli Daerah (PAD) justru dinilai belum menunjukkan performa maksimal.
Kondisi ini memantik sorotan tajam dari Ketua ABS Jelata Muba, Sujarni. Ia menilai, persoalan utama bukan pada minimnya sumber daya, melainkan lemahnya keberanian politik pemerintah daerah dalam mengelola dan menertibkan potensi yang ada.
“Ini bukan soal kekurangan sumber daya. Muba itu kaya. Tapi kalau pengelolaannya biasa-biasa saja, ya hasilnya juga tidak akan pernah luar biasa. Kita butuh political will yang tegas, bukan sekadar rutinitas administratif,” tegas Sujarni dalam keterangannya kepada berbagai media di Sekayu, Kamis (6/5/2026).
Menurutnya, slogan pembangunan “MUBA MAJU LEBIH CEPAT” tidak akan pernah benar-benar terwujud tanpa langkah konkret yang berani, terutama dalam menertibkan sekitar 500 perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut.
Prioritas Tajam, Bukan Kebijakan Seragam
Sujarni menekankan bahwa peningkatan PAD tidak bisa dilakukan dengan pendekatan “pukul rata”. Pemerintah daerah harus berani menetapkan skala prioritas berbasis sektor strategis.
Sektor migas dan energi, kata dia, harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Optimalisasi pengelolaan sumur minyak serta peningkatan partisipasi daerah (participating interest) dinilai sebagai langkah tercepat untuk mendongkrak kas daerah.
Di sisi lain, sektor perkebunan sawit yang luas justru kerap menjadi sumber kebocoran, terutama dalam aspek pajak dan kontribusi daerah. Hal serupa juga terjadi pada sektor pertambangan yang dinilai masih lemah dalam pengawasan izin dan volume produksi.
“Kalau ini dibiarkan, kekayaan alam kita hanya keluar tanpa meninggalkan dampak signifikan bagi masyarakat. Ini yang harus dihentikan,” ujarnya.
Tak hanya itu, Sujarni juga menyoroti pentingnya optimalisasi aset daerah yang selama ini cenderung menjadi beban, serta percepatan digitalisasi sistem pajak untuk menutup celah kebocoran dan praktik pungutan liar.
500 Perusahaan: Antara Potensi dan Paradoks
Keberadaan ratusan perusahaan di Muba sejatinya merupakan kekuatan ekonomi yang besar. Namun, menurut Sujarni, tanpa pengawasan yang ketat, justru berpotensi menjadi paradoks: aktivitas ekonomi tinggi, tetapi kontribusi terhadap PAD minim.
“Kalau 500 perusahaan ini hanya beroperasi tanpa pengawasan serius terhadap kewajiban mereka, maka Muba hanya jadi penonton di rumah sendiri,” kritiknya.
Ia memaparkan, secara konservatif, penertiban yang konsisten dapat mendorong kenaikan PAD hingga 20–50 persen dalam kurun waktu 2–3 tahun. Bahkan, jika dilakukan secara menyeluruh dan simultan, bukan tidak mungkin PAD Muba meningkat hingga tiga kali lipat.
Penertiban Bukan Anti-Investasi
Lebih lanjut, Sujarni menegaskan bahwa langkah penertiban bukanlah bentuk penolakan terhadap investasi. Sebaliknya, hal itu justru untuk memastikan adanya keadilan antara keuntungan perusahaan dan kesejahteraan masyarakat daerah.
“Ini soal keadilan. Setiap jengkal tanah yang dikelola harus memberikan timbal balik yang jelas bagi daerah. Kalau tidak, lalu untuk siapa kekayaan alam Muba?” katanya.
Ia menambahkan, digitalisasi sistem pajak serta pengawasan lapangan yang ketat harus menjadi fondasi utama dalam pembenahan tata kelola.
Ujian Keberanian Pemerintah Daerah
Di tengah potensi besar yang dimiliki, tantangan utama Muba kini terletak pada keberanian pemerintah daerah untuk keluar dari zona nyaman dan menertibkan praktik-praktik di area abu-abu.
Seruan pun dilontarkan agar seluruh elemen masyarakat ikut mengawal proses pembenahan tersebut.
“Semua modal sudah ada. Tinggal satu pertanyaan, berani atau tidak kita menertibkan yang selama ini luput dari pengawasan?” pungkas Sujarni.
Dengan segala potensi yang dimiliki, Muba sesungguhnya berada di ambang kemandirian fiskal. Namun tanpa langkah tegas dan terukur, kekayaan itu hanya akan menjadi angka, bukan kesejahteraan nyata.
Visi besar “MUBA MAJU LEBIH CEPAT” kini diuji, sekadar slogan, atau benar-benar arah perubahan. “(Red)”.
Editor: Tamrin














