Makan Dulu, Kerja Belakangan: Resep Baru Pembangunan Nasional

Foto: Ilustrasi
Oleh: Pimpinan Redaksi Penasilet.com
Edisi: Sabtu, 31 Januari 2026
Editorial

JAKARTA,Penasilet.com – Pernyataan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, baru-baru ini terasa seperti lelucon pahit di tengah antrean panjang pengangguran.

Saat jutaan warga usia produktif berjibaku mencari pekerjaan layak, negara justru tampil dengan narasi pembangunan yang seolah lupa bahwa perut kenyang tidak selalu berarti hidup bermartabat.

Seolah-olah, bekerja bukan lagi soal martabat, melainkan sekadar pelengkap menu. Negara tampak lebih sibuk mengatur sendok dan piring, sementara rakyat dibiarkan berebut remah di lantai dapur ekonomi.

Ironisnya, mereka yang masih berjuang mengirim lamaran ke puluhan perusahaan justru dianggap bukan prioritas, seakan-akan semangat kerja bisa digantikan oleh sepiring kebijakan populis.

Bagi warga usia produktif, pekerjaan bukan hanya soal upah, tetapi soal harga diri, masa depan, dan kesempatan untuk keluar dari jerat kemiskinan struktural.

Namun, lewat pernyataan sang menteri, seolah-olah bangsa ini cukup diberi asupan kalori, tanpa perlu diberi akses pada kesempatan.

“Perut kenyang, pikiran kosong; hidup berjalan, masa depan berhenti.”

Lucunya, negara yang katanya ingin membangun sumber daya manusia unggul justru meminggirkan manusianya sendiri.

Anak-anak muda dipersilakan tumbuh, asal tidak tumbuh harapan untuk bekerja. Mereka boleh sehat, asalkan tidak bermimpi terlalu tinggi. Negara tampak nyaman memelihara statistik, bukan memulihkan martabat.

Pernyataan itu menyentuh hati, bukan karena menghangatkan, tetapi karena melukai.

Di tengah kompleksitas sosial, naiknya biaya hidup, dan menyempitnya lapangan kerja, warga usia produktif tidak membutuhkan kalimat manis, apalagi sindiran terselubung dari kebijakan.

Mereka membutuhkan kehadiran negara yang serius membuka peluang, bukan sekadar membuka wacana.
Jika pembangunan hanya berhenti pada urusan perut, maka bangsa ini sedang mereduksi manusia menjadi angka gizi, bukan subjek pembangunan.

Dan jika pekerjaan dianggap sekunder, maka jangan heran bila generasi produktif tumbuh menjadi generasi frustasi, kenyang secara jasmani, tetapi lapar secara masa depan.

Negara seharusnya tidak sekadar mengajari rakyat cara bertahan hidup, tetapi memberi mereka alasan untuk berharap. Sebab, hidup bukan hanya soal makan hari ini, tetapi tentang bekerja untuk hari esok, di masa depan.

Penulis: Pimpinan Redaksi Penasilet.com

#Editorial
#Opini_Publik
#Sorot_Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!