KABUPATEN MALANG,Penasilet.com -Julukan “jalan tebu maut” kini bukan sekadar ungkapan warga, melainkan potret nyata kelalaian yang berlangsung bertahun-tahun di Jalan Sumbersuko, Dusun Panggang Lele, Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare. Lebih dari satu dekade, akses vital ini dibiarkan dalam kondisi rusak parah tanpa perbaikan permanen, memicu keresahan sekaligus ancaman keselamatan bagi masyarakat setempat.
Setiap musim hujan, jalan tersebut berubah menjadi kubangan lumpur. Situasi diperparah oleh daun dan potongan tebu yang berserakan di badan jalan, diduga berasal dari aktivitas angkutan hasil panen. Ketika basah, material tersebut menciptakan permukaan licin menyerupai oli, menjadikan jalan sebagai “perangkap” bagi pengendara, khususnya roda dua.
Warga menyebut insiden kecelakaan bukan lagi hal baru. Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kejadian pengendara terpeleset sudah berulang kali terjadi.
“Setiap hujan pasti ada yang jatuh. Anak saya sendiri pernah terpeleset saat berangkat sekolah. Sudah lebih dari 10 tahun kondisinya seperti ini,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Ironisnya, keluhan warga yang telah disampaikan berulang kali kepada pemerintah desa hingga kecamatan seolah tak membuahkan hasil. Bahkan, warga menuding adanya sikap menghindar dari pihak pemerintah desa terhadap pengaduan yang disampaikan.
Kerusakan jalan yang ditandai dengan lubang menganga, sistem drainase buruk, serta minimnya pengawasan terhadap truk pengangkut tebu memperburuk kondisi. Dampaknya, aktivitas harian warga terganggu, mulai dari anak sekolah hingga pekerja yang melintas setiap pagi.
Menanggapi kondisi ini, Ketua LSM-APAN RI, Rahma Yulinda Handayani Tan, melontarkan kritik keras terhadap pemerintah daerah dan aparat pengawas internal.
“Saya minta Pemerintah Kabupaten Malang dan Inspektorat segera turun tangan menindaklanjuti tuntutan warga. Perbaiki jalan yang rusak secara menyeluruh dan tertibkan truk pengangkut tebu agar tidak lagi menimbulkan bahaya di jalan,” tegas Rahma.
Ia juga mendesak dilakukannya audit terhadap Kepala Desa Arjowilangun sebagai bentuk evaluasi terhadap dugaan pembiaran yang berlangsung selama bertahun-tahun.
“Jangan tunggu ada korban jiwa baru bergerak. Ini bukan sekadar soal infrastruktur, tapi soal keselamatan masyarakat. Negara tidak boleh abai,” tambahnya.
Rahma menegaskan, pihaknya tidak akan tinggal diam melihat kondisi yang merugikan warga secara terus-menerus. Ia berjanji akan mengawal persoalan ini hingga ada langkah konkret dari pemerintah.
Kondisi “jalan tebu maut” ini menjadi cermin buram lemahnya respons terhadap keluhan publik. Ketika jalan sebagai urat nadi aktivitas warga dibiarkan rusak tanpa kepastian, yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan, tetapi juga nyawa. Pemerintah daerah kini dihadapkan pada ujian nyata: hadir dan bertindak, atau terus membiarkan risiko itu menghantui warganya. Desak Audit dan Tindakan Tegas”
(Red).
Editor: Tamrin














