Oleh: Tim Redaksi
Penasilet.com – Jum’at, (22/8/2025) – Di negeri yang dikaruniai tambang emas, minyak, gas, batu bara, dan hutan lebat, ironi paling menyakitkan masih nyata: “rakyat di sekitar sumber kekayaan alam justru hidup dalam kemiskinan struktural dan keterbelakangan sosial.”
Lihatlah daerah-daerah seperti Papua, Kalimantan, Riau, dan sebagian Sumatera Selatan. “Triliunan rupiah mengalir keluar tiap tahun dari tambang, kilang, dan konsesi korporasi besar.” Namun, jalan rusak, sekolah reyot, layanan kesehatan minim, dan pengangguran merajalela tetap menjadi pemandangan sehari-hari.
“Kesenjangan ekonomi dan sosial di daerah kaya SDA bukan kecelakaan, tapi akibat dari pola eksploitasi sistemik.” Negara dan perusahaan meraup untung besar, sementara masyarakat lokal hanya jadi penonton dari tanah mereka sendiri. Dana bagi hasil dan CSR hanyalah tambal sulam, bukan solusi berkeadilan.
Parahnya, ketika warga bersuara atau menuntut hak, mereka kerap dibungkam atau dilabeli mengganggu investasi. Sementara segelintir elit lokal hidup dalam kemewahan, “mayoritas rakyat tetap berjibaku dengan harga sembako, akses pendidikan, dan lapangan kerja yang minim.”
“Inilah bentuk penjajahan modern dalam selimut legalitas.” Sumber daya dikuras, hak rakyat diabaikan.
Sudah saatnya kita bertanya: “Siapa sebenarnya yang merdeka di negeri ini?” Dan sampai kapan rakyat yang hidup di tanah kaya akan terus menjadi miskin dan terpinggirkan?
Penulis: Tim Redaksi
Editor:Tamrin
#CatatanRakyatUjungTanjung
#Kesenjangan
#Ketimpangan
#Daerah
#KayaSDA
#MiskinKeadilan














