Mahfud MD: Hukum Kini Jadi Komoditas, Indonesia Berada di Ambang “Nunggu Waktu”

JAKARTA,Penasilet.com – Peringatan keras datang dari tokoh hukum nasional, Mahfud MD, terkait kondisi penegakan hukum di Tanah Air yang kian memprihatinkan. Dalam sebuah orasi yang viral di berbagai platform media sosial, Mahfud secara telanjang membedah anatomi kerusakan hukum yang kini telah bergeser menjadi “barang dagangan” bagi mereka yang memiliki otoritas dan kapital.

​Mahfud menegaskan bahwa Indonesia sedang menghadapi ancaman serius, jika rezim tidak segera berbenah atau jatuh, maka kehancuran negara menjadi konsekuensi logis yang tak terelakkan.

​Hukum yang Diperjualbelikan

​Dalam narasinya, Mahfud menyoroti praktik lancung di mana perkara hukum kini memiliki label harga.

“Bukan rahasia lagi, orang kalau punya kasus, perkaranya mau dilanjutkan atau tidak, bayar! Nanti kalau sudah menang eksekusi, bayar lagi,” tegasnya dalam video beredar di berbagai platform media sosial, di kutip Sabtu (28/3/2026).

​Mahfud menggambarkan sebuah siklus gila di mana hukum tidak lagi menjadi panglima keadilan, melainkan alat pemeras bagi rakyat kecil dan karpet merah bagi para elit.

Ketimpangan ini menciptakan realitas pahit: Tebang Pilih, Si kecil yang bersalah langsung dihantam hukum tanpa ampun. Privilese Elit, Aristokrat, orang kaya, dan mereka yang berpengaruh bisa membeli pengampunan meski terbukti melanggar.

Manipulasi Aturan demi Syahwat Kekuasaan

​Kritik paling tajam dalam pernyataan tersebut menyasar pada perilaku penguasa yang dengan sengaja “menjahit” aturan demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Mahfud mengungkapkan bahwa jika sebuah aturan hukum tidak selaras dengan kehendak pemegang otoritas, maka pilihannya bukan mematuhi hukum, melainkan mengubah aturan tersebut.

​”Sistem hukum dijadikan alat untuk membenarkan kehendak-kehendak orang yang punya otoritas. Kalau aturannya ada tapi enggak cocok, diubah aturannya,” ujarnya.

Belajar dari Sejarah Kehancuran

​Mahfud mengingatkan bahwa sejarah runtuhnya kerajaan-kerajaan besar dan bangsa di masa lalu selalu bermuara pada satu titik: matinya keadilan. Ketika hukum dipermainkan dan keadilan menjadi barang mewah, stabilitas negara hanyalah bom waktu yang siap meledak.

​”Nunggu waktu. Kalau tidak jatuh rezim, hancur negaranya. Dan itu sudah selalu terjadi dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa,” pungkasnya.”(Red).”

Editor: Tamrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!