Wartawan dan Mahasiswa Tangerang Raya Tolak RUU Penyiaran: ‘Suara Rakyat Dibungkam, Demokrasi Terancam!’

  • Bagikan

Tangerang, Penasilet.com – Suara penolakan terhadap Revisi Undang-Undang (RUU) Penyiaran menggema di depan gedung DPRD Kota Tangerang hari ini. Aliansi wartawan se-Tangerang Raya bersama mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa, menuntut penghentian pembahasan RUU yang dianggap bermasalah dan mengancam kemerdekaan pers serta demokrasi di Indonesia.

Aksi Teatrikal dan Tutup Mulut Simbolkan Kesengsaraan dan Pembungkaman, Aksi unjuk rasa diwarnai dengan berbagai orasi dan teatrikal yang menarik perhatian. Para demonstran merangkak di jalan dan ditetesi lilin, menggambarkan kesengsaraan insan pers yang terancam oleh RUU Penyiaran. Aksi tutup mulut juga dilakukan sebagai simbol pembungkaman kemerdekaan pers.

Empat Tuntutan: Hentikan RUU, Libatkan Pers, Tolak Pengesahan, Koordinator lapangan, Hendrik Simorangkir, menegaskan.

“Empat tuntutan utama, Penghentian pembahasan RUU Penyiaran, Pelibatan insan pers dalam pembahasan RUU, Penandatanganan fakta integritas oleh Ketua DPRD Kota Tangerang, Penolakan pengesahan RUU Penyiaran” ucap Hendrik.

Hendrik menjelaskan bahwa RUU Penyiaran mengandung beberapa pasal bermasalah yang berpotensi mengancam kemerdekaan pers dan demokrasi di Indonesia. Pasal-pasal tersebut, menurutnya, dapat membatasi ruang gerak jurnalis dalam menjalankan tugasnya dan memanipulasi informasi.

Aksi penolakan RUU Penyiaran ini mendapat dukungan dari berbagai organisasi jurnalis dan mahasiswa, antara lain:

* Balai Media Center (BMC) Tangerang Raya

* Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta Biro Banten

* Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korwil Kota Tangerang

* Persatuan Wartawan Foto Indonesia (PFI) Tangerang Raya

* Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Tangerang Raya

* Forum Komunikasi Mahasiswa (Forwat) Tangerang Raya

* Pokja Tangerang Raya

* Pena Jurnalis Tangerang (PJT) Tangerang Raya

* Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Opinis Stisnu

Aksi unjuk rasa ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat, khususnya insan pers dan mahasiswa, tidak akan tinggal diam terhadap RUU Penyiaran yang bermasalah. Suara rakyat yang dibungkam dan demokrasi yang terancam menjadi alarm bagi pemerintah untuk menghentikan pembahasan RUU ini dan membuka ruang dialog yang melibatkan semua pihak.

Mari tolak RUU Penyiaran demi menjaga kemerdekaan pers dan demokrasi di Indonesia!

(Ismail)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!